“Biasa-Biasa Aja Lagi” :p

Itu adalah sebuah kata-kata ajaib yang selalu dikatakan guru matematika semasa SMA ku dulu. Perkenalkan, beliau bernama Cut A. Yusvidar beliau lahir di Aceh pada 57 tahun silam. Biasanya aku dan teman-teman sekelas lainnya memanggil beliau dengan sebutan “Bu Cut”.

“Woyy Bu Cut udah dateng! Buruan-buruan! Beresein makanannya!” ahahahahah itulah yang biasa dikatakan anak-anak dikelasku ketika memasuki mata pelajaran MTK. Galak? Wooww gak perlu ditanya lagii! Beliau masuk ke dalam daftar salah satu guru killer disekolahku. Setiap pelajaran matematika seluruh kelas langsung mendadak sunyi, focus dan tak ada suara bising sedikitpun.

Namun, walau begitu beliau merupakan guru terfavorit selama 4 tahun berturut-turut! meskipun beliau memiliki image yang “galak”, tegas dan tak terbantahkan namun sesungguhnya beliau merupakan sosok yang inspiratif dan merupakan seorang motivator yang handal.

Bagiku, beliau memiliki makna tersendiri di dalam hati, tempat tersendiri yang lain yang tidak bisa digantikan oleh siapapun…
Semuanya berawal ketika aku masih kelas 1 SMA


“Syahh.. tolong ambilin spidol sama penghapus ya di ruang TU, soalnya kelas kita belum dapet itu” ucap ketua kelasku, Putra ketika jam istirahat. Aku mengangguk dan langsung pergi ke ruang TU bersama Kartika teman sekelasku. Ketika kami kembali ternyata pelajaran matematika sudah dimulai, dengan perlahan aku mengetuk pintu dan kemudian masuk. Kulihat sosok seorang wanita berwatak tegas sedang berbicara mengenai peraturan kelas, karena saat itu kami baru menginjak bangku SMA selama seminggu. Aku dan Kartika hendak langsung ke bangku kami masing-masing, namun terlihat olehku tangan beliau memberikan instruksi untuk tetap berada di depan kelas. Aku tertegun sesaat, begitu juga kartika, ia melirikku sekilas dan akhirnya kami berdiri di depan kelas. Saat itu aku baru tau, bahwa beliau bernama Bu Cut. 

“Darimana kalian? Kok baru masuk kelas?” Tanya Beliau dengan logat Aceh yang kental. “Maaf bu, tadi saya dan teman saya abis ngambil penghapus sama spidol di ruang TU” jawabku berusaha sesopan mungkin. “Kenapa gak diambil daritadi? Kenapa ngambilnya pas mesti mau pelajaran ibu?” cecar beliau membuatku semakin gugup. “Tadi saya kebawahnya saat masih istirahat bu.. terus tadi nunggu bapaknya dulu buat ngasih spidol sama hapusannya.. makanya lama” ucapku lagi. “Ya sudah. Tapi ibunya tidak suka ada yang telat datang ke kelas saat pelajaran ibu sudah mulai. Kalian berdiri di sana sampai jam pelajaran matematik berakhir” katanya tegas.
Aku menelan ludah dan rasanya hampir ingin menangis, bagaimana mungkin aku sudah membuat masalah dikelas matematika pertamaku? Sedangkan pelajaran itu adalah pelajaran tersulit selama ini bagiku. Akhirnya dengan menahan rasa malu, aku berdiri di depan kelas. Menyaksikan teman-temanku belajar matematik. Terlihat olehku Rahmat yang ternyata sangat jago pelajaran tersebut. Aku hanya bisa menunduk malu, saat itu aku berdoa semoga akan ada kesempatan bagiku nantinya untuk membayar rasa malu ini.

Hari demi hari berlalu, aku belajar matematik dengan sangat keras bersama sahabat-sahabat dekatku Fajar dan Egy. Disetiap waktu luang, entah itu saat istirahat, ataupun jam kosong aku bersama mereka selalu mengerjakan soal-soal yang ada di buku paket. Sejujurnya aku udah eneg dan ingin muntah saat setiap kali mencoba untuk memecahkan dan mengaplikasikan rumus-rumus yang ada dibuku tersebut. Namun, rasa ingin muntah tersebut terkalahkan oleh rasa ingin membuktikan diri sendiri bahwa aku bukan seorang siswa yang tukang telat masuk di pelajaran matematik, aku ingin Bu Cut lihat aku bukan sebagai seorang siswa yang tukang telat, tapi sebagai sebagai siswa yang bisa dalam pelajaran matematik.

Akhirnya, pekan ulangan ujian tengah semesterpun tiba, aku dan kedua sahabatku belajar lebih keras. Aku harus mendapatkan nilai baik di ujian matematik. Tidak muluk-muluk aku hanya ingin minimal mendapat nilai 7 di ujian tersebut, karena selama ini aku cukup tahu diri tentang kemampuanku dibidang matematik. Soal ujianpun dibagikan, aku tertegun tatkala melihat soal yang aku hadapi, berkali-kali aku membaca surat pendek untuk meyakinkan apa yang ada dihadapanku. “Gak salah nih soal? Apa Cuma perasaanku aja atau emang kenyataannya, kok soalnya gampang banget ya?” hatiku berkata-kata. Pelan-pelan aku mengerjakan soal tersebut satu demi satu, setiap ingin mengerjakan satu nomor aku selalu mengucapkan bismillah agar diberi kemudahan. 

Ujianpun berakhir, sesaat aku hanya tertegun merenungkan soal-soal yang baru saja aku hadapi. Aku melihat kesekeliling kelas, Nampak wajah teman-temanku terlihat murung dan stress, apa hanya perasaanku saja soal itu terasa mudah? Terlihat Fajar mendekati mejaku “Gila syah, susah banget tadi soalnyaaa” curhat Fajar aku hanya diam mendengar ocehannya, tiba-tiba Egi datang menghampiri kami. “Gi, gimana tadi soalnya?” tanyaku kepadanya “Yeuuhh apa-apaan tuh soalnya, ngeledek gue banget! Hahahahahaha” katanya terlihat sumringah. Aku tersenyum sedikit lega “Berarti menurut lo itu gampang?” tanyaku pelan. “Iyalaah.. emang gimana meurut lu?” tanyanya. Aku tersenyum tipis “Gak tau, semoga aja hasilnya baik” ucapku datar.
          Masih teringat jelas di memoriku otakku, suasana kala itu, begitu tegang dan mendebarkan. Kulihat Bu Cut sedang memperhatikan nilai hasil ujian mid semester waktu lalu. Dalam hati aku terus berdoa, dan meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Disaat yang bersamaan aku juga berusaha mensugesti diriku agar tidak down apabila nilaiku tidak sesuai dengan harapan. “semoga dapet nilai bagus ya Allah..” ucapku dalam hati, “Eh tapi gimana kalo ternyata nilainya jelek banget?? Inget syaahh ini tuh pelajaran matematik, gak usah berharap lebih deh!” hatiku yang lain berkata. Peperangan batin tersebut semakin membuatku kalut.

“Adityo Putra” Bu Cut mulai mengabsen nama kami, aku menelan ludah, Adit sontak mengacungkan jarinya. Sesaat Bu Cut melirik kearah Adit lalu berkata “5,65”. Aku menunduk “Tuh kan.. jelek-jelek.. udah Syahh terima ajaaa” batinku sedih. “Aisyah Maimunah”, Bu Cut memanggil namaku, dengan agak gemetaran aku mengacungkan jari “8,65” katanya cuek, namun sontak membuat aku ingin menangis. Aku benar-benar tidak menyangka, impian dan harapanku akhirnya terkabul, terbayar sudah rasa lelah dan ingin muntah saat mempelajari matematika. Aku dan Egy mendapatkan nilai yang sama. Ya, hanya kami berdua yang mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Namun, yang lebih penting dari itu, setidaknya aku sudah membuktikan kepada Bu Cut bahwa aku mampu, bahwa aku bisa. Bahwa aku bukan seorang siswa yang tukang telat masuk pelajarannya.

Semenjak itu, aku mulai menjalin hubungan baik dengan Bu Cut. Aku semakin giat belajar, dan yang terpenting aku sudah tidak lagi merasakan perasaan tertekan saat mempelajari matematik. Aku mulai menyukai matematik, oh mungkin aku jatuh cinta dengannya. Ternyata ia begitu mudah sesungguhnya, hanya prosesnya saja yang terkadang membuat sampai jatuh bangun.
Hasil pembagian rapor semester pertama pun tiba, Alhamdulillah aku masuh ke dalam tiga besar. Buah dari kerja keras dan hadiah dari Allah SWT. Orang tuaku tentu saja senang, mereka menatapku dengan tatapan bangga yang tidak pernah aku lihat selama ini. Dan ketika aku sedang berbicara dengan mereka, terlihat Bu Cut menghampiri kedua orang tuaku. Tentu saja, aku sedikit geer, dengan kehadirannya, kupikir beliau akan memberikan aku selamat atas pencapaian yang aku dapatkan. Namun ternyata dugaanku salah total. Masih ku ingat percakapan beliau dengan Mama Papa ku.

“Ibu dan Bapak orang tuanya Aisyah ya?” tanyanya tanpa basa-basi

“Oh iya ibu, ibu Bu Cut ya.. guru matematikanya Aisyah? Aisyah sering cerita tentang ibu di rumah” jawab mamaku

“Oh iya.. gimana si Aisyah nilainya, dapet ranking berapa dia?” kata Bu Cut dengan tatapan nakal kepadaku. Aku tersipu malu

“Rangking dua dooong buuu” jawabku malu-malu

“Oooh.. ya bagus kalo gitu.. selamat ye..” kata bu Cut

“Hehee makasih ibuu” ucapku

“Ini lho bu, si Aisyah suka gak masuk pelajaran saya” kata bu Cut tiba-tiba
Aku mendadak bengong, apa maksudnya? Yeah, memang aku akui ada beberapa kali aku tidak masuk pelajaran beliau, tapi itu tidak lebih dari 3 kali dan bukan berturut-turut alasannya pun karena sakit.

“Masa sih bu? Tapi Aisyah jalan dari rumah bu..” Tanya mamaku dengan bingung

“Nah itu dia, gatau dia kemana, jangan-jangan madol lagii” kata bu cut yang semakin membuatku panik.

“Ih saya gak pernah madol buu!” sanggah ku cepat. Namun kedua orang tuaku hanya senyum-senyum memandang aku dan bu Cut. Baru aku sadari ternyata bu Cut hanya bercanda.

“Ibu takutnya, nilai kamu turun, sayang kalo sampe turun. Jangan turun ya! Harus rajin masuk”. Kata bucut lembut
“Iyaaa ibuuuuu” jawabku manja

Bu Cut pun pamit pergi. Aku tersenyum bahagia. Akhirnya aku bisa berdekatan dengan guru ku tersebut. Guru yang mengajarkanku betapa indahnya dunia matematika. Guru yang membuatku jatuh cinta dengan logaritma.

Ialah Bu Cut, nama yang begitu melegenda dihatiku sampai saat ini. aku sangat mencintai beliau. Semoga beliau selalu berada di dalam lindungan Allah amiinnn!


Ini foto-fotoku dengan beliau saat berkunjung kerumahnya pada hari Jumat, 22 Agustus 2014 :D Kangeeeeenn ibuuuuuuu ({})

Cha sayang ibuuuu <3



Ibu juga ikut bergayaa cieeeee :p


Nyanya' paking cantik dehh ;)


0 komentar:

Posting Komentar

Aisyah Maimunah. Diberdayakan oleh Blogger.

Home Ads

Press

My Life

Latest in Sports

Like us

Vertical Resize - Hello Kitty